ROHIS TIN 37

Saturday, January 12, 2002

Kurban dan Shalat Diatas Kuburan

Publikasi: 30/10/2001 11:38


Pertanyaan:


Asalaamu \'alaikum Wr. Wb.


Ustadz yang saya hormati, ada 2 (dua) hal yang ingin saya tanyakan, yaitu: 1. Seringkali saya mendengar bahwa shalat di atas kuburan haram hukumnya, lalu bagaimana dengan shalat di masjid yang sebelumnya merupakan tanah pekuburan, mengingat masih ada kemungkinan, jasad yang dikuburkan belum semuanya terambil sewaktu dibersihkan.

2. Mengingat tiap tahun terdapat ribuan orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji (tahun ini sekitar 250.000 orang) dan kondisi perekonomian Indonesia sedang sulit, dapatkah hewan kurban (bukan karena \"dam\") disembelih di Indonesia dan dibagikan kepada yang berhak ataukah ada ketentuan hewan yang dikurbankan harus disaksikan oleh yang berkurban? Terima kasih.

Wasalaamu \'alaikum Wr. Wb.


Yons


Jawaban:


Asalaamu \'alaikum Wr. Wb.


Sifat agama Islam adalah memudahkan, bukan mempersulit. Jika sebuah masjid dibangun di atas tanah yang dulunya adalah kuburan dan tidak bisa dibersihkan seluruhnya, maka kita tak boleh mempersulit usaha pemakaian masjid tersebut dengan masih melarang orang shalat di dalamnya sebelum semua dibersihkan. Saya bahkan ragu apakah memang boleh memindahkan jenazah atau bekas-bekas yang masih tertinggal dari padanya ke tempat lain? Tolong ini ditanyakan kepada yang lebih ahli.

Setahu saya larangan shalat di kuburan adalah karena ada kecenderungan sejak zaman dahulu (pra Islam) untuk menyembah leluhur dan mengkultuskannya. Ini perbuatan syirik yang amat dilarang. Makam Nabi Saw. dan 2 orang sahabatnya (Abubakar ra dan Umar ra) juga terletak dalam masjid Nabawi. Itu karena dahulunya bagian tersebut adalah rumah Aisyah ra istri Nabi Saw. dan putri Abubakar ra. Bagian tersebut kemudian terikut ke dalam bangunan masjid karena perluasan masjid pada masa sesudah khalifah yang 4 (sesudah khalifah Ali ra).

Dulu pernah dijawab di eramuslim ini bahwa qurban dari para pelaku hajji boleh menitipkan hewan qurbannya di tanah air, sedangkan dam-nya tetap di sana. Wallahu a\'lam bishshawwab


Wasalaamu \'alaikum Wr. Wb.


HM Ihsan Tanjung


posted by Johan Wahyudi 6:33 AM [edit]

Manajemen "Afwan Akhi"

Publikasi: 05/11/2001 08:44


Pertanyaan

Assalaamu'alaikum Wr Wb

Langsung saja Ustadz, saya ingin menayakan tentang satu persoalan dakwah: Ketika kita berhubungan sesama aktifis dakwah dalam konteks bermu'amalah, misalnya hubungan dagang/ bisnis, saya mengamati ada sesuatu pendangkalan makna dalam berukhuwah.

Maksud saya, sering dijumpainya sebuah kondisi yang bertameng "Afwan Akhi" sehingga kesungguhan kerja tidak terjadi dan hasil yang diharapkan jauh dari rencana semula.

Bahkan ada seorang ustadz yang mengatakan sebaiknya berbisnis melibatkan kalangan umum (tidak sesama aktifis dakwah) saja karena urusan dan kesungguhan dapat sama-sama kita jaga, gimana nih, ustadz? Jazakumullah khoir

Wassalaamu'alaikum Wr Wb

akhdwi


Jawaban

Assalaamu ?alaikum Wa rahmatullahi Wa barakaatuh

Saudaraku akh Dwi yang semoga selalu di rahmati Allah,

1) Seorang mujahid da?wah bernama Hasan al-Banna mengatakan bahwa ada 10 indikator keberhasilan seorang muslim di dalam melakukan reformasi diri (ishlahun-nafs).

Di antaranya adalah ?rapih dalam segenap urusannya?
(munazhzhoman fii syu?uunihi). Hal ini mengisyaratkan bahwa sudah semestinya seorang aktivis da?wah berlaku profesional.

Di samping itu ia hendaknya juga ?bermanfaat bagi orang lain? (nafi?an li ghairihi). Hal ini mengisyaratkan
bahwa ia senantiasa berjiwa ukhuwwah dan memenuhi hak orang lain.

2) Nabi Muhammad saw, teladan kita semua, mencontohkan bahwa tatkala beliau berdagang beliau merupakan seorang pedagang yang jujur sekaligus sukses. Karena beliau senantiasa berkinerja profesional di dalam usaha dagangnya.

3) Maka saya berpendapat bahwa barangsiapa yang tidak memenuhi hak orang lain ketika sedang berdagang berarti ia telah berlaku aniaya terhadap mitra dagang atau usahanya. Dan ia samasekali tidak dibenarkan berdalih di balik ?afwan akhi? atau ?ukhuwwah? di dalam melakukan penganiayaannya itu.

Bahkan jika ia menjadikan itu sebagai suatu kebiasaan berarti ia telah memanipulasi makna ukhuwwah yang sebenarnya. Yang lebih ironis lagi bilamana fihak yang dianiaya olehnya adalah sesama saudara muslim. Artinya, ia telah ?menganiaya
saudaranya atas nama persaudaraan?. Aneh, bukan?

4) Saya doakan semoga anda dapat berlaku tegas namun tetap memelihara penampilan penuh kasih-sayang dan persaudaraan kepada siapapun terlebih sesama saudara muslim.

Jangan biarkan seorangpun saudara muslim kita terperosok ke dalam tindak aniaya semata karena kita terlalu lembek di dalam mendidiknya berkinerja profesional. Tetapi, sebaliknya pula, jangan sampai kita kehilangan seorang saudara semata karena ketidak-sabaran kita di dalam mendidiknya. Wallahu a?lam bish-shawwaab.

Wassalaamu'alaikum Wr Wb

HM Ihsan Tanjung


posted by Johan Wahyudi 6:32 AM [edit]

Dakwah Sendirian di Lingkungan Baru

Publikasi: 06/11/2001 12:19


Pertanyaan


Assalamu'alaikum Wr Wb

Ustadz yang saya hormati, beberapa minggu lalu, saya baru pindah kos. Kos saya yang dulu sarat dengan aktivitas ruhiyah, dari shaum sunnah sampai imam shalat fardhu.

Sekarang, di kos yang baru, aktivitas ini sama sekali tidak ada. Mengajak mereka untuk shalat fardhu berjamaah saja sudah Alhamdulillah. Ghibah, mendengki dan sifat buruk lainnya masih menjadi akhlak mereka.

Tapi, setelah dekat dengan mereka, ternyata mereka hanyalah kurang Ilmunya saja. Kasihan mereka. Yang jadi pertanyaan saya, kenapa teman-teman yang sudah "lihai" dengan dunia
dakwah menjadi lupa pada komunitas seperti itu.

Seakan, mereka merasa bahwa komunitas seperti itu tidaklah mau tersentuh atau membutuhkan sentuhan dakwah mereka.

Kira-kira, apa yang menjadi hambatan jika kita berdakwah kepada komunitas seperti itu? Sedang saya tak ada teman (dakwah sendirian). Kiranya perangkat-perangkat apa yang saya butuhkan untuk "menyentuh" mereka?

Ustadz yang baik, kiranya sekian dulu pertanyaan dari saya. Mohon ustadz berkenan mencarikan solusinya.

Wassalamu'alaikum Wr Wb


Nafi


Jawaban


Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh,

Kepada saudara Nafi yang semoga selalu dibimbing Allah dalam berda’wah di jalan-Nya, Sebagai seorang muslim, apalagi sebagai seorang aktivis da’wah kita dituntut untuk selalu mengedepankan sangka baik kepada sesama muslim apalagi
sesama aktivis da’wah.

Bahwa komunitas tertentu seperti yang anda hadapi belum tersentuh oleh para aktivis da’wah itu memang sebuah realita dan sekaligus masalah. Namun hendaknya kita janganlah terlalu mudah memvonis bahwa para aktivis yang sudah “lihai” -menurut anda- lantas menyengaja diri melupakan komunitas tsb.

Sebab di dalam da’wah itu sendiri ada faktor “prioritas” yang mesti diperhatikan. Contoh: jangankan saat ini kita bersibuk-sibuk berda’wah kepada orang non-muslim yang sama sekali belum tahu tentang Islam, sedangkan sebagian saudara muslim kita sendiri masih banyak yang belum mengerti apa itu Islam, iya kan? Nah, begitu pula dengan mereka yang anda hadapi itu.

Barangkali fikiran sebagian aktivis adalah: jangankan berda’wah kepada mereka, sedangkan yang sudah jelas sering datang ke masjid dan musholla saja masih banyak yang salah-faham terhadap ajaran Islam.

Da’wah juga mengenal faktor “kecocokan” antara da’i (penyeru da’wah) dan mad’u (yang diseru). Tidak semua da’i cocok untuk semua jenis orang. Sebagaimana seorang mad’u belum tentu akan menerima da’wah dari da’i yang mana saja. Ia pasti punya unsur cocok-cocokan.

Sebab itu merupakan tabiat hubungan sosial antar-manusia. Boleh jadi ada aktivis tertentu yang bisa diterima di kalangan tertentu, sementara ada saja aktivis yang tidak bisa diterima di kalangan tadi tetapi diterima di kalangan lain lagi.

Memang idealnya seorang aktivis dapat mengembangkan diri dan da’wahnya sedemikian rupa sehingga ia dapat diterima di segenap kalangan manapun. Tetapi bukankah sudah merupakan rahasia umum bahwa yang istimewa seperti itu jumlahnya tak pernah banyak?

Dikarenakan hal-hal di atas maka wajarlah bilamana di dalam menjalankan kewajiban berda’wah diperlukan ‘amal jama-i (kerja-sama). Tidak mungkin kita dapat berhasil berda’wah seorang diri.

Makanya da’wah sangat memperhatikan pentingnya kaderisasi agar tersedia stok kader yang memadai jumlahnya dan beranekaragam jenisnya untuk semaksimal mungkin melayani kebutuhan da’wah di tengah umat manusia yang tuntutannya bervariasi.

Inilah makna firman Allah di dalam surah Ali Imran ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Siapa tahu anda di mata Allah dipandang cocok menangani da’wah di kalangan komunitas yang anda sedang hadapi di tempat kos anda saat ini. Berarti anda termasuk istimewa karena anda dipercaya Allah memiliki kecukupan kesanggupan, kesabaran, kreativitas dan kiat untuk menghadapi mereka.

Cobalah anda berkonsultasi dan bekerjasama dengan aktivis lainnya yang terlebih dahulu sudah memiliki pengalaman menangani jenis mad’u seperti yang anda hadapi itu.

Suatu hal yang pasti Sayyid Qutub mengatakan bahwa di dalam kita berda’wah di kalangan manapun harus berpegang pada prinsip “yakhtalituna wa lakinna yatamayyazuna” (berinteraksi dengan siapapun namun tetap memelihara keistimewaan diri). Jangan lantaran kita terlalu berinteraksi dengan mad’u kemudian kita menjadi luntur dan larut mengikuti keburukan mereka.

Tetapi jangan pula lantaran kita terlalu memperhatikan agar keistimewaan diri kita terpelihara kemudian kita menjadi tidak mampu luwes dan fleksibel berinteraksi dengan mad’u.

Selamat berda’wah. Semoga Allah swt selalu membimbing anda di tengah jalan da’wah menghadapi siapapun di muka bumi ini. Semoga Allah memberikan kepada diri anda di satu sisi "hamasatu asy-syabab” (semangat menggelora
seorang pemuda) dan di lain sisi “hikmatisy syuyukh” (kearifan/wisdom seorang yang telah berusia lanjut dengan segala asam garam pengalaman hidupnya).
Wallahu a’lam bish-shawwaab.


Wassalaamu'alaikum Wr Wb


HM Ihsan Tanjung

posted by Johan Wahyudi 6:31 AM [edit]

Monday, July 30, 2001

Kasus kawan kita. Ane ingin bertanya, apakah menuduh seseorang berbuat kebohongan, kecurangan dan kelicikan dengan mengatakan yakin 100% anda salah merupakan suatu dosa apa tidak? Pertanyaan ini dilontarkan menyikapi tindakan staf pengajar jurusan Matematika terhadap temankita si 'gadis' yang saat ini lagibimbang. Diteror, dibentak, disakiti hatinya dipaksa mengakui perbuatanyang tak pernah diperbuatnya. Apakah itu cara nendapat keadilan? Bolehlah kasus yang lalu terbukti si mahasiswa bersalah, tapi apakah kawan kami itu juga salah? Padahal menurut pengakuannya kepada kami, "DEMI ALLAH SAYA TIDAK MELAKUKAN KECURANGAN SEDIKITPUN". Apakah nama Allah tidak cukup bagi seorang dosen untukmeluluhkan hatinya? Hendaknya kita percaya apa yang dikatakan si 'gadis' terlepas apakah itu benar atau salah, toh dosa ditanggung dia sendiri kalomemang dia berbohong. Sebaiknya koreksi diri, jagaperkataan jangan sampai menyakiti orang lain, karena lidah kadang lebih tajam daripada pisau tajam. Camkan rekan.
posted by Johan Wahyudi 6:44 AM [edit]

Monday, July 23, 2001

Sebenarnya seorang pemimpin wanita itu adalah dilarang bagi umat Islam selama masih ada lelaki yang bisa memimpin. Tapi bagaimana keadaan di Indonesia yang berusaha 'melegalisasi' pemimpin wanita? Alasan demi kemaslahatan tidak dapat dijadikan dasar dipilihnya seorang wanita jadi pemimpin. Padahal kemaslahatan itu sendiri tidaklah pasti tercapai dengan dipilihnya wanita.
posted by Johan Wahyudi 5:47 AM [edit]

Thursday, July 19, 2001

Dwi, ya Dwi Oktaviyanti orang berikutnya yang telah menjawab pertanyaan UAS, "Menutup aurat itu wajib, tapi mengapa banyak muslim yang masih mempertontonkan auratnya?" Dwi telah menjawab pertanyaan itu dengan mengenakan jilbab, selamat buat Dwi.
Semoga kamu diberi rahmat oleh-Nya. Dan satu pesen dari temanmu 'Jangan pakai pakaian ketat ya!'
posted by Johan Wahyudi 6:39 AM [edit]

Monday, July 16, 2001

Aa Gym Quotes:
"Orang yang banyak bicara hasil dari mendengar akan menghasilkan pembicaraan yang berkualitas"
"Krisis terbesar pada masyarakat sekarang adalah krisis suri tauladan"

posted by Johan Wahyudi 12:21 PM [edit]

"Wahai Allah yang Maha Agung, karuniakanlah kepada kami keindahan akhlak. Ya Allah kelembutan hati, kesejukan qalbu.
Pancarkan dari diri kami, keindahan agama-Mu ya Allah. Pancarkan dari pribadi diri kami keagungan agama-Mu, ya Allah.
Jadikan kehadiran kami dimanapun, menjadi cahaya bagi umat-Mu ya Allah. Jadikan kehadiran kami dimanapun menjadi penyejuk bagi umat-Mu, menjadi penggelora semangat bagi hamba-hamba-Mu. Ya Allah cegahlah kami dari segala godaan yang menggelintirkan. Lindungilah kamidari tipu daya setan yang menyesatkan. Lindungi kami dari segala sifat munafiq. Ya Allah lindungi kami dari segala kemusyrikan dan lindungilah kami kami dari perbuatan apapun yang akan menjadi contoh buruk bagi umat-Mu. Ya Allah Engkau adalah tujuan kami. Engkau adalah tumpuan harapan kami, Engkau adalah buah hati kami. Karuniakanlah kami kesempatan untuk memperbaiki diri ya Allah. Ya Allah karuniakan kepada kami para pemimpin yang dapat menjadi contoh kebaikan bagi kami. Amiin Yaa Rabbal A'lamin."
(KH. Abdullah Gymnastiar)
posted by Johan Wahyudi 10:20 AM [edit]

"Tinggalkanlah olehmu sekalian apa saja yang telah kutinggalkan. Sesungguhnya yang menyebabkan kebinasaan umat-umat sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka, dan mereka bertindak tidak sesuai dengan apa yang dismpaikan oleh Nabi-Nabi mereka. Oleh karena itu, bila aku melarang sesuatu kepada kamu sekaian, dan bila kau memerintahkan sesuatu maka kerjakanlah sekuat tenaga." (HR. Bukhori dan Muslim)
posted by Johan Wahyudi 5:39 AM [edit]

Selamat datang di blogger-nya ROHIS TIN 37, semoga kita dapat memanfaatkannya dengan baik, sebagai sarana dakwah.
Semoga kita selalu di jalan Allah, amien.

posted by Johan Wahyudi 5:32 AM [edit]


This page is powered by Blogger, the easy way to update your web site.